Monday, 3 October 2016

Good Boy goes To Heaven, Bad Boy Goes to Phuket

Judul tulisan di atas saya temukan saat menunggu antrian untuk masuk ke sebuah supermarket. Lelaki di depan saya mengenakan kaos berwarna hitam. Dari tulisannya saja, saya pastikan baju itu dibeli di Phuket, salah sebuah kota percutian di Thailand.

Ingatan dalam kepala saya mendadak seperti roll film yang diputar perlahan. Sepanjang jalan memasuki kota Phuket, jalan yang kami lalui berkelok-kelok. Naik-turun menyerupai jalan di pegunungan. Namun, sejauh mata memandang, bukan pepohonan yang saya saksikan, melainkan hamparan air biru laut. Dari dalam mobil,  Saya merasa  sudah tidak sabar untuk segera menyusuri tepian pantai dengan pasir putih yang sangat bersih. Minum kelapa segar di tepi pantai bersama bule ganteng sehabis surfing. Ah...khayalan.

Di dalam mobil Vannete yang kami tumpangi berisi lima orang. Saya dan teman saya, lalu tiga orang lagi adalah sebuah keluarga yang berasal dari Malaysia. Supir Vannete berhenti sekali di sebuah agensi Tour Phuket, hendak menawarkan paket penginapan serta wisata menarik di sana. Kami hanya mendengarkan tanpa minat. Rasanya ingin berteriak,

"Hello Man, can you look our backpack? We are amateur traveller not tourist!"
Hingga akhirnya Vannete yang kami tumpangi berhenti di Bangla Road.

" Jika Indonesia punya Bali, maka Thailand punya Phuket", seru temanku ketika menyusuri sepanjang jln Bngla Road yang dipenuhi gerai-gerai cinderamata di kanan dan kiri.

Debur ombak pantai  masih terdengar dari tempat kami saat itu. Wisatawan dengan pakaian bikini berlalu lalang sesuka hati.  Pekerja restaurant dan bar-bar sedang berbenah untuk menyiapkan dagangan mereka. Maklum, kami sampai sana sudah siang. Mereka sedang mempersiapkan bisnis malam.  Di pagi hari, phuket nyaris terlelap. Sepi. Hanya tukang sapu dan sisa orang yang baru saja keluar dari bar. Masih setengah mabuk, jalan terhuyung-huyung sambil tertawa. Aktivitas baru terlihat setelah hari menjelang siang. 

Kami mencari penginapan murah. Tidak gampang karena kami memang tidak memesan hotel terlebih dulu. Dari beberapa tempat yng kami kunjungi, kami memesan penginapan secara  On the spot. Kalau lagi untung, tentu dapat harga murah. Kalau lagi apes, dapat harga mahal.

Setelah berjalan cukup jauh, kami belum menemukan penginapan. Akhirnya kami berhenti di salah sebuah agensi tour. Perjalanan di beberapa tempt sebelumnya telah mengarii kami,. Bahasa inggris tour agen lebih fasih dan enak jika kifa bertanya suatu tempat yang ingin kita cari. 

Sambil basa-basi mencari paket wiaata untuk keesokan harinya, yakni menyusuri pulu phi phi island, kami bertanya soal penginapan murah. Gotcha. . , Mbak-mbak itu membuatkan kami map. Menunjukkan penginapan untuk para bakpacker. Karena dia sudah baik, akhirnya kami membeli tiket cruise dengannya. Dan harga yang kami dapatkan juga cukup murah, yaitu 900 bhat atau Rp. 180.000, Padahal harga yang ditawarkan dua kali lipatnya. Kami harus pinter nawar biar dapat harga murah. Dengan harga itu, kami akan mendapatkan fasilitas menyusuri pulau Phi-Phi dan Maya Beach serta Mendapatkan fasilitas makan sepuasnya di tengah pulau.



Nah, kami mendapatkan hostel yang murah. Satu malam hanya 300 bhat atau Rp 90.000. kamar dormitori, satu kamar berisi banyak orang, campur cowok dan cewek. Tapi tenang aja, enggak sekasur kok. Fasilitas kamar mandi di luar kamar. Yah, paling di sana hannya buat nitip tas sama mandi doang. Malam dimanfaatkan buaat jalan, menyaksikan hedonisme kehidupan malam di Patong beach.

Hal yang paling mengesankan di sana adalah waktu yang berjalan sangat perlahan. Kami hanya singgah dua hari, tapi terasa sangat lama. Seperti berhaari-hari.  Kami menghabiskan sepanjang sore dengan jalan-jalan di tepi pantai. Memasuki gerai-gerai makan demi mendapatkan masakan tom yam asli Thailand. Mencari baju oleh-oleh, tukang pijet hingga teman saya numpang BAB di sebuah salon. Hahahaha....

Malam hari kami mendapatkan suguhan bar-bar dengan gemerlap lampu. Syurga dunia bagi penikmat hedonisme. Alkohol, dance , music dan sex.  Semakin malam semakin ramai. Pada jam 23.00, para ladyboy keluar dari sanggarnya. Berjalan di sepanjang Bangla road dengan pakaian seksi. Jika mau berfoto harus bayar. Seniman beratraksi, ada yang main gitar, breakdance di tengah jalan dan aksi-aksi seni lainnya. penjual cinderamata juga masih sibuk menjajakan barang dagangannya. tapi enggak segaresif pedagang cinderamata yang sering saya lihat di beberapa tempat wisata di Indonesia, seperti di Borobudur maupun Prambanan. 

semakin malam tidak menjadikan area tepi pantai itu semakin sepi. justru semakin ramai. karena tidak tahan dengan keriuhannya, saya memutuskan pulang ke hostel. tidur. jika diingat kembali, salah saya ingin bisa ke sana lagi. meski tidak menyukai kehidupan malamnya, namun bercuti ke sana memberikan kesan tersendiri. harga barang-barang yang dijual murah, makanan murah, penginapan murah dan tentu saja banyak makanan halal. jangankan cuma makanan halal, masjid pun tersedia. 

Patong Beach ibarat dua sisi mata uang. sebelah berupa hedonisme gemerlap dunia malam, namu masih terdengar suara adzan. seruan Tuhan ibarat seruan untuk menarik mobil berkarat.